About Search

Prolog

Sekilas Info
2 Januari 2026

Mungkin terasa sedikit janggal jika melihat judul di atas.

Secara teknis, ini bukanlah tulisan pertama yang terbit di halaman ini. Ini adalah postingan kedua. Namun, saya sengaja menyematkan judul “Prolog” di sini. Mengapa? Karena dalam sebuah buku, prolog tidak selalu berfungsi sebagai urutan kronologis pertama, melainkan sebagai pemberi konteks, latar belakang, dan fondasi mengapa cerita selanjutnya layak untuk ditulis dan dibaca.

Tulisan ini adalah fondasi tersebut. Ini adalah sebuah jeda sejenak untuk menjelaskan “mengapa”.

Kita hidup di zaman di mana kalimat “Nge-blog itu sudah mati” sering terdengar seperti kebenaran mutlak. Dan mungkin, ada benarnya. Hari ini, jagat maya dikuasai oleh kecepatan. Saat membuka mata di pagi hari, miliaran manusia langsung disuguhi rentetan video 15 detik di TikTok, potongan gambar estetik di Instagram, atau debat di X (Twitter).

Semuanya serba cepat, serba visual, dan serba instan. Kita terbiasa mengonsumsi informasi seperti menelan makanan cepat saji: enak, bikin ketagihan, tapi sering kali berlalu begitu saja tanpa sisa.

Lantas, di tengah keramaian digital yang menuntut kecepatan itu, mengapa masih ada orang yang mau menulis paragraf demi paragraf di sebuah blog sunyi?

Bagi saya, blog ini adalah laboratorium bahasa.

Saya menyadari bahwa kebiasaan berinteraksi di aplikasi pesan instan dan media sosial telah mengubah cara kita berbahasa. Kita terbiasa menyingkat kata, mengabaikan tanda baca, dan menabrak aturan tata bahasa demi kecepatan mengetik. Tanpa sadar, kemampuan untuk menyusun kalimat yang baik dan benar (sesuai kaidah bahasa) perlahan menumpul.

Oleh karena itu, saya menjadikan blog ini sebagai wadah latihan disiplin diri.

Selamat datang di prolog perjalanan saya. Mari kita lihat ke mana kata-kata ini akan membawa kita.