Ada satu fenomena unik yang saya alami selama bertahun-tahun berkecimpung di bidang perencanaan bangunan. Semakin mahir saya menggunakan perangkat lunak desain dan semakin banyak proyek yang saya tangani, semakin sering pula saya terjebak dalam situasi salah sangka. Orang-orang melihat hasil gambar saya, melihat cara saya bekerja di lapangan dan otomatis menyimpulkan saya adalah seorang arsitek. Padahal, realitasnya tidak sesederhana itu. Ada tembok tebal bernama administrasi yang memisahkan saya dari gelar tersebut.
Meskipun layar komputer saya menampilkan deretan aplikasi desain dan perencanaan yang sangat spesifik, serta jari-jari saya sudah hafal di luar kepala pintasan keyboard untuk menggambar garis hingga rendering 3D, ijazah saya tidak bertuliskan “Sarjana Arsitektur”.
Berkat kedekatan dengan sejumlah arsitek senior, pintu menuju berbagai acara resmi organisasi sering terbuka untuk saya. Tanpa sadar, saya telah mengumpulkan nilai KUM yang cukup banyak dari kegiatan-kegiatan tersebut, layaknya seorang profesional yang sedang mengejar syarat perpanjangan lisensi.
Suatu hari, saya hadir di acara tahunan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) di provinsi saya bekerja. Saya berada di sana, di tengah kerumunan profesional. Di sela-sela coffee break, saya iseng melempar pertanyaan kepada rekan arsitek senior tersebut. Saya bertanya apakah praktisi lapangan seperti saya memiliki peluang untuk bergabung menjadi anggota resmi IAI.
Alih-alih memberikan jawaban asumtif yang berpotensi memberi harapan palsu, ia memilih langkah aman demi kepastian informasi. Ia memutuskan untuk memverifikasi langsung hal tersebut kepada salah satu pengurus inti IAI yang kebetulan hadir di lokasi.
Hasilnya sesuai dugaan: pintu keanggotaan mensyaratkan gelar Sarjana Arsitektur (S1) sebagai harga mati. Tidak ada jalur penyetaraan pengalaman untuk hal ini. Mendengar itu, saya tidak berkecil hati. Justru, momen penegasan ini membuat saya semakin menaruh hormat pada profesi arsitek. Ketatnya aturan tersebut menunjukkan bahwa ini bukan sekadar pekerjaan menggambar, melainkan sebuah disiplin keilmuan yang dijaga betul standar dan marwahnya. Menjadi arsitek resmi memiliki tanggung jawab moral dan kode etik yang besar.
Meskipun dunia administrasi menutup pintunya, dunia nyata tetap menggelar karpet merah bagi siapa saja yang mampu menyelesaikan masalah.
Kesalahpahaman orang-orang yang sering mengira saya arsitek kini saya anggap sebagai hiburan semata. Biarlah itu menjadi rahasia umum di antara debu proyek.
Saya bukan arsitek, saya hanyalah kawan diskusi Anda dalam merencanakan bangunan.