About Search

Asing di Bahasa Sendiri

Merubah Nasib atau Mengubah Nasib?
6 Januari 2026

Dulu, pelajaran bahasa Indonesia di sekolah sering saya anggap angin lalu. Tidak seperti matematika, sains, atau bahasa Inggris yang sering jadi prioritas. Saya berpikir, untuk apa mempelajari sesuatu yang sudah saya gunakan setiap hari sejak balita?

Namun, belakangan ini pandangan itu berubah.

Semuanya bermula dari rasa penasaran iseng saat saya sedang menulis sebuah pesan. Saya ragu pada satu kata sederhana. Saya pun mencoba mencari tahu kebenarannya di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hasil pencarian itu membuat saya terdiam sebentar. Ternyata, kata yang selama ini saya yakini benar dan saya pakai berulang-ulang justru salah kaprah.

Sejak saat itu, saya mulai menaruh perhatian lebih. Saya menemukan fakta menggelitik tentang kata “merubah”.

Sering sekali kita mendengar atau membaca kalimat, “Kita harus berani merubah nasib.” Terdengar heroik dan benar, bukan? Tapi, setelah saya pelajari kembali kaidahnya, kata “merubah” sebenarnya tidak tepat. Kata dasarnya adalah “ubah”. Jika bertemu imbuhan, ia seharusnya menjadi “mengubah”. Kalau kita bersikeras memakai “merubah”, secara harfiah kita sedang membicarakan hewan rubah. Niat hati ingin bicara soal perubahan, malah jadi bicara soal satwa.

Kesalahan-kesalahan kecil seperti ini ternyata banyak sekali saya lakukan.

Saya juga baru sadar bahwa kata “silahkan” yang sering saya tulis di pesan singkat ternyata bentuk tidak bakunya. Kata yang tepat adalah “silakan”—tanpa huruf ‘h’—karena kata dasarnya adalah “sila”. Begitu juga dengan kata “risiko”. Selama ini saya terbiasa menulisnya dengan “resiko”, padahal kata ini diserap dari bahasa asing risk, yang membuat ejaan bakunya menggunakan huruf ‘i’, bukan ‘e’.

Mungkin bagi sebagian orang, hal ini terlihat sepele. “Ah, yang penting kan komunikatif,” begitu pembelaan yang sering muncul. Dulu saya pun setuju dengan itu.

Tetapi, semakin saya mendalami, semakin saya sadar bahwa berbahasa dengan tertib bukan soal menjadi kaku atau sok pintar. Ini adalah soal menghargai logika dan struktur. Ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa menyampaikan gagasan dengan kata yang tepat, bukan sekadar kata yang populer tapi keliru.

Saya bukan ahli bahasa, bukan juga guru yang ingin menggurui. Saya hanyalah seorang penutur asli yang baru sadar bahwa bahasa ibunya ternyata memiliki kedalaman yang belum sempat ia pelajari dengan tuntas.