Rencana kemah beberapa tahun yang lalu itu seharusnya menjadi pelarian yang menyenangkan. Namun, rentetan kesialan mengubahnya menjadi ujian mental yang tak akan saya lupakan. Pekerjaan menahan saya hingga sore, dan senior yang seharusnya menjadi teman seperjalanan sekaligus penunjuk jalan, mendadak batal ikut.
Pukul 5 sore, dengan nekat, saya berangkat sendiri. Bodohnya, saya hanya mengandalkan ingatan samar pada Google Maps dan tangki bensin penuh, tanpa mengunduh peta offline. Awalnya lancar di jalan lintas provinsi, tapi begitu memasuki perbatasan kabupaten menuju area pegunungan, langit berubah kelabu pekat. Gerimis turun, memaksa saya memakai jas hujan seadanya. Saya sama sekali tidak siap untuk apa yang menanti di depan.
Mimpi buruk yang sesungguhnya bermula tepat saat Maghrib. Saya memasuki jalan kabupaten yang sempit dan berliku, diapit oleh hutan jati dan kebun kosong. Hujan berubah menjadi badai. Sinyal ponsel lenyap total di saat saya paling membutuhkannya. Dan puncaknya: listrik di sepanjang jalur itu padam. Desa-desa kecil yang saya lewati tak ubahnya seperti kumpulan siluet rumah mati.
Saya sendirian. Basah, lapar, buta arah, dan terisolasi dalam kegelapan absolut. Hanya sorot lampu motor saya yang berjuang membelah tirai hujan yang rapat.
Fokus saya mulai pecah karena kelelahan dan dingin yang menusuk tulang. Di sebuah turunan tajam yang gelap, motor saya menghantam lubang besar yang tergenang air. Stang motor oleng hebat, saya nyaris terpelanting ke aspal basah. Saya berhasil menyeimbangkan diri, tapi jantung saya serasa mau copot. Adrenalin membanjiri tubuh, membuat semua indra saya menjadi hiper-waspada.
Di titik inilah, di tengah hutan yang sunyi mencekam—hanya ada suara hujan dan deru mesin motor—otak saya mulai berkhianat.
Awalnya, hanya perasaan diawasi. Perasaan klasik, tapi kali ini intensitasnya berbeda. Tengkuk saya merinding hebat, bukan karena dingin, tapi karena insting yang menjerit bahwa ada sesuatu di belakang saya. Saya mencoba melirik ke kaca spion, tapi sia-sia; hanya ada kegelapan pekat dan pantulan air hujan yang kabur.
Lalu, gangguan itu beralih dari perasaan menjadi penglihatan.
Saat motor melaju pelan menembus kabut tipis yang mulai turun, dari sudut mata kiri saya menangkap gerakan. Bukan gerakan daun tertiup angin. Itu adalah bayangan hitam, besar dan cepat, yang seolah melompat dari satu batang pohon ke batang pohon lain, mengikuti kecepatan motor saya.
Setiap kali saya menoleh cepat untuk memastikan, bayangan itu hilang. "Tenang, itu cuma sugesti. Itu cuma bayangan pohon yang kena lampu," saya merutuk dalam hati, mencoba memanggil logika yang mulai tenggelam oleh rasa takut.
Namun, teror itu meningkat. Jalanan semakin sempit dan pepohonan di kiri kanan terasa semakin rapat, seolah kanopi hutan menekan ke bawah, menciptakan terowongan gelap yang menyesakkan.
Saya mendongak sedikit, dan di sanalah saya melihatnya dengan jelas—atau setidaknya, otak saya meyakinkan saya bahwa itu nyata.
Di pucuk-pucuk pohon yang tinggi, berbatasan dengan langit malam yang sedikit lebih terang karena mendung, siluet dahan-dahan itu tidak terlihat normal. Ranting-ranting kering yang bergoyang tertiup angin kencang diinterpretasikan oleh mata saya yang panik sebagai tangan-tangan hitam kurus yang tak terhitung jumlahnya. Mereka tampak menjulur ke bawah, ke arah jalan, ke arah saya. Seperti ribuan jari raksasa yang siap menyambar jika saya berhenti.
Itu adalah pareidolia—kecenderungan otak mencari pola wajah atau bentuk pada benda mati—dalam bentuknya yang paling mengerikan. Kelelahan dan ketakutan mengubah hutan biasa menjadi sarang monster.
Puncaknya terjadi di sebuah tikungan patah. Lampu motor saya menyapu area semak belukar di pinggir jalan. Sedetik saja, saya melihat—sumpah demi apapun, saya melihatnya—sosok hitam legam, tinggi, berdiri kaku tepat di batas cahaya lampu saya. Tidak berwajah, hanya bentuk tubuh yang membungkuk aneh.
Saya berteriak tertahan di dalam helm, memutar gas sekuat tenaga, tidak peduli lagi jalanan licin. Masa bodoh dengan lubang, masa bodoh dengan tersesat. Saya hanya ingin keluar dari terowongan pohon terkutuk ini. Pikiran rasional saya sudah kalah; saat itu, bagi saya, hutan itu hidup dan lapar.
Satu jam terasa seperti selamanya. Saya berkendara seperti orang kesurupan, terus membuang muka dari sisi jalan.
Akhirnya, sebuah tugu kecil di persimpangan muncul. Tanda peradaban. Sedikit lebih jauh, cahaya lampu kuning hangat dari rumah warga terlihat. Saya berhenti di warung kecil yang masih buka dengan genset, tubuh gemetar hebat, napas memburu. Warga yang melihat saya menatap heran, seolah saya baru melihat hantu. Faktanya, mungkin memang itu yang terjadi di kepala saya.
Setelah mendapat petunjuk arah dengan benar, saya sampai di lokasi kemah sepuluh menit kemudian.
Teman-teman menyambut dengan tawa, musik, dan aroma ayam bakar yang menenangkan. Kontrasnya begitu brutal hingga membuat kepala saya pening. Mereka tidak tahu bahwa beberapa kilometer sebelumnya, saya sedang bertarung melawan teror yang diciptakan oleh pikiran saya sendiri di tengah hutan yang gelap.