About Search
Ngủ Trưa (Tidur Siang) Sumber gambar: RDNE Stock project di Pexels

Ngủ Trưa (Tidur Siang)

Sebuah Kultur Tidur Siang
5 Januari 2026

Bagi sebagian besar pekerja di Indonesia, “tidur siang” mungkin terdengar seperti kemewahan yang mustahil—atau bahkan dianggap tanda tidak profesional. Kita terbiasa menggunakan jam istirahat untuk makan, menunaikan salat Zuhur, bersosialisasi, atau sekadar bermain ponsel. Jika ada yang tidur, biasanya dilakukan sembunyi-sembunyi.

Namun, pandangan saya berubah total saat menjalani magang di Vietnam. Di sini, tidur siang adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kerja. Ia bukan aktivitas curi-curi waktu, melainkan ritual harian yang dijalankan secara terbuka, disiplin, dan kolektif oleh hampir seluruh karyawan.

Perbedaan ini langsung terasa saat jarum jam menunjukkan pukul 12.00 atau 12.30. Ruangan menjadi hening. Tidak ada lagi suara pekerjaan atau obrolan.

Saya melihat rekan kerja saya, seorang staf senior, dengan santai menggelar tikar anyaman di lantai, meletakkan bantal, lalu tidur.

Namun, tidak semua orang pindah ke kolong meja. Ada yang tetap duduk di kursi kerja, menyandarkan punggung senyaman mungkin, lalu menutupi seluruh wajah dengan jaket, handuk kecil, atau kain yang dibawa dari rumah.

Jika kamu masuk ke ruangan saat itu, kamu akan melihat campuran antara orang yang tidur di lantai, menelungkup di meja, dan mereka yang duduk dengan wajah tertutup kain. Semuanya tidur pulas.

Di Vietnam, kebiasaan ini disebut “Ngủ trưa”. Ini bukan tanda kemalasan, melainkan “hak asasi” setiap karyawan.

Mengapa kebiasaan ini begitu kuat? Sebenarnya, ada alasan historis yang logis di baliknya.

Sebagai negara tropis dengan akar agraris, leluhur orang Vietnam terbiasa bangun pagi dan beristirahat total saat matahari sedang ganas-ganasnya di tengah hari, sebelum kembali bekerja di sore hari. Kebiasaan ini pun terus dipupuk lewat bangku sekolah. Bayangkan, dari TK hingga SMA mereka diwajibkan tidur siang. Tidak heran jika tubuh mereka secara alami sudah terlatih selama bertahun-tahun untuk “istirahat” begitu jam makan siang tiba.

Ternyata, Vietnam tidak sendirian dalam menormalisasi istirahat di jam kerja. Beberapa negara lain memiliki versi mereka sendiri:

Perbedaan cara kita mengisi waktu istirahat sangat terasa.

Di Indonesia, jam istirahat biasanya digunakan untuk recharge sosial dan spiritual. Kita makan santai, salat, dan mengobrol panjang lebar. Rasa kantuk sering kali kita lawan dengan kopi.

Sementara itu, fokus jam istirahat di Vietnam adalah mengembalikan energi tubuh. Makan siang dilakukan seefisien mungkin—sering kali cukup 15 menit—agar sisa waktunya bisa dipakai untuk tidur nyenyak. Lingkungan kantor pun dikondisikan hening total demi kenyamanan bersama.

Awalnya saya merasa canggung. Saya hanya duduk diam sambil memainkan ponsel dengan cahaya redup.

Namun, memasuki minggu kedua, saya mencoba beradaptasi. Saya membawa bantal leher, menyandarkan kepala, dan memejamkan mata.

Saat lampu dinyalakan kembali pukul 13.30 siang, saya merasa jauh lebih segar. Rasa kantuk dan lelah yang biasanya menyerang di sore hari hilang.

Mungkin tidur di lantai bawah meja agak sulit diterapkan di semua kantor di Indonesia. Namun, esensinya patut kita pertimbangkan: bahwa tubuh membutuhkan jeda.

Jadi, jika besok siang kamu merasa lelah, ingatlah bahwa di Vietnam, tidur siang adalah hal yang sangat manusiawi.